Saya tidak punya mobil dan tidak punya rumah karena saya tidak mampu membeli keduanya secara tunai. Mohon maaf dengan gaji saat ini, MUSTAHIL bisa membeli semua itu secara tunai. Namun, wallahi saya merasa hidup saya dan keluarga terasa happy-happy saja.

Tidak punya rumah, namun saya masih mampu mengontrak rumah. Tidak punya mobil, namun saya masih mampu naik Go-Car atau Grab. Harta paling mahal yg pernah saya beli adalah motor Scoopy bekas, hadiah untuk istri seharga 11 juta. Alhamdulillah.

Wallahi, saya sering mendengar keluh kesah beberapa orang yang mencoba memaksakan diri hidup diluar kapasitas dompetnya, hanya agar terlihat sudah sukses didepan tetangganya.

Banyak mereka pusing tujuh keliling karena gaji bulanan mereka HABIS hanya untuk bayar cicilan. Bukan hanya habis, bahkan ada yg sampai DEFISIT, lalu cari pinjaman lagi!

Siang-siang mereka habiskan mencari uang. Malam-malam mereka dihantui oleh tagihan. Ancaman perang dari Allah pun terarah kepada mereka, jika berkutat dalam transaksi ribawi.

Semua kesusahan itu rela mereka pikul, demi terlihat mentereng di hadapan orang lain. Wallahi, apa guna?

Pantaskah saya malu? padahal mereka yang malam-malamnya tersiksa karena memikirkan cicilan? Padahal mereka yang gajinya habis hanya untuk terlihat mentereng? Padahal mereka yang melakukan dosa riba.

Jika perbandingannya adalah contoh orang-orang seperti diatas, saya merasa menjadi orang yg lebih berbahagia.

Meskipun rumah masih ngontrak, mobil gak punya, motor pun beli bekas, namun setiap setahun sekali atau dua kali, saya bisa mengajak keluarga berlibur. Kalo ada uang lebih, saya bisa ajak anak-anak main di Kidzoona. Alhamdulillah, saya juga masih bisa memberi kepada orang tua dan nabung meskipun gak banyak.

BUKAN.. Bukan saya yang harusnya malu. Bukan juga kalian yang memilih hidup mengontrak, yang memilih gak mencicil mobil secara ribawi. Tapi mereka lah yg harusnya MALU. Aslinya hidup merana, tapi kok pura-pura kaya. Aslinya hatinya khawatir dan was-was, tapi kok pura-pura bahagia.


Ayo hidup merdeka. Hidup sesuai kapasitas, tanpa cicilan gaya hidup.